Telah sesuai sunnah-kah wudhu & shålat yang selama ini kita praktekkan? Mari kita kita simak dan mempelajari video sifat wudhu & shålat nabi berdasarkan hadits-hadits yang shåhih sesuai pemahaman salafush shåleh.
Telah sesuai sunnah-kah wudhu & shålat yang selama ini kita praktekkan? Mari kita kita simak dan mempelajari video sifat wudhu & shålat nabi berdasarkan hadits-hadits yang shåhih sesuai pemahaman salafush shåleh.
Merupakan nikmat Allåh yang besar kepada para hamba-Nya adalah, Allåh menjadikan waktu-waktu spesial yang penuh dengan berkah agar para hamba-Nya memanfaatkan kesempatan emas tersebut dan berlomba-lomba untuk meraih berkah yang sebanyak-banyaknya.
15 Aug, 2009
Kami (Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly dan Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid Hafizhåhumullåh) menilai perlunya dibawakan pasal ini pada kitab kami (yakni Kitab Sifat Shaum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Fii Ramadhan), karena adanya sesuatu yang teramat penting yang tidak diragukan lagi sebagai peringatan bagi manusia, dan sebagai penegasan terhadap kebenaran, maka kami katakan :
Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menetapkan sunnah Nabi secara adil, (untuk) memusnahkan penyimpangan orang-orang sesat dari sunnah, dan mematahkan ta’wilan para pendusta dari sunnah dan menyingkap kepalsuan para pemalsu sunnah.
Puasa itu ada dua macam, puasa fardhu dan puasa tathawwu’ atau puasa sunnah. Puasa fardhu ada tiga macam, yaitu puasa Ramadhan, puasa Kaffarah dan puasa Nadzar. Sedangkan puasa tathawwu’ Enam Hari pada Bulan Syawal, Puasa tanggal 9 Dzul Hijjah (Arafah) [bagi selain orang yang melaksanakan Haji], Puasa Bulan Muharrom [Tanggal 9 dan 10 (Tasu'a dan 'Asyura)], Berpuasa pada Sebagian Besar Bulan Sya’ban, Berpuasa pada Hari Senin dan Kamis, Berpuasa Tiga Hari Setiap Pertengahan Bulan, dan Puasa Daud (Sehari berbuka, sehari berpuasa).
Banyak sekali ayat yang tegas dan muhkam (qath’i) dalam Kitabullah yang mulia, memberikan anjuran untuk puasa sebagai sarana untuk taqarrub kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan juga menjelaskan keutamaan-keutamaannya, seperti firman Allah, yang artinya:
“Sesungguhnya kaum muslimin dan muslimat, kaum mukminin dan mukminat, kaum pria yang patuh dan kaum wanita yang patuh, dan kaum pria serta wanita yang benar (imannya) dan kaum pria serta kaum wanita yang sabar (ketaatannya), dan kaum pria serta wanita yang khusyu’, dan kaum pria serta wanita yang bersedekah, dan kaum pria serta wanita yan berpuasa, dan kaum pria dan wanita yang menjaga kehormatannya (syahwat birahinya), dan kaum pria serta wanita yang banyak mengingat Allah, Allah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar” [A-Ahzab : 35]
13 Aug, 2009
Di Posting oleh: admin di: Kajian audio
Materi: Bekal Ibadah di Bulan penuh Berkah
Pemateri: Ust. Abu Qåtadah Hafizhåhullåh
Download (klik kanan disini, “save target as” atau “save link as”)
Ramadhan adalah bulan kebaikan dan barokah, Allah memberkahinya dengan banyak keutamaan, sebagaimana dalam penjelasan berikut ini:
Di tengah-tengah kesibukan Anda menyiapkan tas travel dan koper dengan segenap perbekalan dan perlengkapan, pernahkah Anda mencoba menyisihkan sedikit waktu untuk merenung sejenak ; Apa niat dan tujuan kepergian (safar) Anda? Dan tahukah anda kapankah anda disebut seorang musafir? Dan Bagaimana adab – adab syariat yang mesti Anda perhatikan agar safar menjadi safar yang penuh berkah?
Diriwayatkan dari Abu Umayyah al-Jumahi radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya salah satu tanda dekatnya hari Kiamat adalah ilmu diambil dari kaum ashaaghir (ahli bid’ah).” *
* Ibnul Mubarak berkata dalam kitab az-Zuhd (hal. 21 dan 281): “Yang dimakud kaum ashaaghir adalah ahli bid’ah.”
[Diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dalam kitab az-Zuhd (61), dari jalur tersebut al-Lalika-i meriwayatkannya dalam kitab Syarah Usbuul I’tiqaad Ahlis Sunnah (102), ath-Thabrani dalam al-Kabiir (XXII/908 dan 299), al-Harawi dalam kitab Dzammul Kalaam (11/137), al-Khathib al-Baghdadi dalam kitab al-Faqiih wal Mutafaqqih (11/79), Ibnu ‘Abdil Barr dalam kitab Jaami’ Bayaanil ‘llm (1052) dan lainnya dari jalur Ibnu Luhai’ah, dari Bakr bin Sawadah, dari Abu Umayyah. Saya (Syaikh Salim) katakan: “Sanadnya shahih shahih, karena riwayat al-’Abadillah dari Ibnu Luhai’ah adalah riwayat shahih. Adapun perkataan al-Haitsami dalam Majma’uz Zawaa-id (I/1365) yang mendha’ifkan Ibnu Luhai’ah tidaklah tepat.”
Ditambah lagi Ibnu Luhai’ah tidak tersendiri dalam meriwayatkan hadits ini, ia telah diikuti oleh Sa’id bin Abi Ayyub yang dikeluarkan oleh al-Khathib al-Bagdadi dalam al-Jaami’ li Akhlaaqir Raawi wa Adaabis Saami’ (I/137). Sa’id adalah perawi tsiqah.
(Oleh: Ustadz Abu Abdillah al-Atsari)
Definisi Bohong
Raghib al-Ashfahani berkata:
“Asal jujur dan bohong adalah dalam perkataan, baik itu pada perkara yang telah lampau, akan datang, atau berupa sebuah janji. Dinamakan bohong karena ucapannya menyelisihi apa yang ada di dalam hatinya.” (Fathul Bari, 10/623).
Berkata Imam Nawawi:
“Ketahuilah, madzhab Ahlus Sunnah berkata bahwa bohong adalah mengabarkan sesuatu yang menyelisihi kenyataannya, sama saja engkau sengaja atau tidak sengaja. Orang yang berbohong dengan tidak sengaja, maka tidak ada dosanya, akan tetapi ia akan berdosa apabila melakukannya dengan sengaja.” (Al-Adzkar, hal. 326, lihat pula Al-Adab asy-Syar’iyah, 1/53).