Karasteristik Jalan Dakwah

 بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيم
1. Penuh Dengan Ujian dan Cobaan
“Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mu’min). Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasulNya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu pahala yang besar”(QS.Ali-Imran 179)
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta” (QS.Al-ankabut 2-3)
Adalah sebuah keniscayaan bahwa jika seseorang mengambil langkah untuk beriman maka dilangkah berikutnya ia akan menemukan ujian dan cobaan yang menyertainya. Begitulah jalan yang ditempuh seorang Da’i, bukan jalan yang penuh kesenangan, bukan jalan yang dapat ditaburi bunga-bunga. Tapi jalan yang penuh dengan cobaan, penuh dengan onak dan duri. Jalan yang penuh dengan ujian itu adalah sebagai pembeda siapa yang berjuang dengan ikhlas karena Allah, siapa yang munafik.
2. Jalan Yang Panjang
Jalan dakwah adalah jalan yang panjang, apa yang seorang Da’i tanam pada saat ini belum tentu Ia akan memanennya sekarang juga. Tidak ada yang ringkas, tidak ada yang instan. Bahkan Nabi Nuh telah berdakwah selama 950 tahun, dan hanya belasan pengikutnya.
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim” (Al-ankabut 14)
Seorang da’i tidak akan berharap melihat natijah atau hasilnya ketika Ia masih hidup. Karena ini adalah kerja peradaban, membutuhkan waktu yang jauh lebih lama dari umur biologis manusia. Hanya sebuah batu bata dari bangunan kejayaan Islam.
3. Sedikit Yang Menapakinya
Sebuah konsekuensi dari perjalanan yang panjang dan penuh ujian adalah sedikit yang mau melaluinya. Diantara sedikit orang yang beriman, lebih sedikit lagi orang yang berilmu, diantara sedikit orang yang berilmu, sedikit orang yang beramal, diantara sedikit orang yang beramal, lebih sedikit lagi orang yang ikhlas, diantara sedikit orang yang ikhlas, lebih sedikit lagi yang istiqomah.
“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mu’minin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfa`at kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai” (QS. At-taubah:25)
4. Besar Ganjarannya
“…Mohonlah pertolongan dari Allah dan bersabarlah, sesungguhnya bumi ini kepunyaan Allah, dipuskakannya kepada sesiapa yang dikhendakiNya dari hamba-hambaNya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa” ( AlA’raaf: 128 )
Dari segala macam ujian dan cobaan yang panjang ada kesudahan yang baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka perjuangan ini adalah jalan yang penuh lika-liku, rintangan. Namun siapa yang mampu bersabar melalui jalan ini yang berliku maka dia akan sampai pada saatnya akan mendapatkan kebahagiaan dan kesenangan dalam hatinya.
Jalam dakwah bukanlah jalan yang bertabur bunga-bunga dan kesenangan
Jalan dakwah penuh dengan ujian dan tantangan
Jalan dakwah penuh dengan lika-liku perjuangan
Jalan dakwah membutuhkan cinta dan air mata perjuangan
Jalan dakwah penuh dengan keikhlasan dan kesabaran
Jalan dakwah adalah jalan-Ku, jalan-Mu dan jalan Kita semua menuju Syurga-Nya Allah subhanahu wata’ala.

 

Demikian Semoga Bermamfaat…

@Wallahu ‘alam bishowab…

Oleh : Ustadz Muhammad Akbar, S.Pd

(Penulis, Guru dan Mahasiswa Pasca Sarjana State University of Makassar)

Artikel : belajarislam.or.id (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *