بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيم

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu memulai pembicaraan tentang hari akhir dan akidah Ahlussunnah mengenai hari akhir, Beliau berkata :

“Dan termasuk beriman dengan hari akhir adalah : Beriman dengan segala sesuatu yang Nabi kabarkan tentang apa yang terjadi setelah mati”.

Hukum beriman kepada hari akhir adalah wajib dan kedudukannya dalam agama adalah merupakan salah satu rukun iman yang enam. Sering sekali Allah azza wajalla  menggabungkan antara iman kepada Allah azza wajalla dengan beriman dengan hari akhir, iman dengan awal kehidupan dan iman dengan tempat kembali. Karena barangsiapa yang tidak beriman dengan hari akhir maka dia tidak mungkin beriman kepada Allah azza wajalla. Sesungguhnya orang­orang yang tidak beriman dengan hari akhir niscaya dia tidak akan beramal. Karena tidaklah seseorang itu beramal melainkan karena dia berharap akan kemuliaan hari akhir dan karena takut adzab dan siksaan, kalau dia tidak beriman dengan hari akhir maka dia menjadi seperti orang yang Allah azza wajalla  kisahkan :

وَقَالُواْ مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا ٱلدُّنۡيَا نَمُوتُ وَنَحۡيَا وَمَا يُهۡلِكُنَآ إِلَّا ٱلدَّهۡرُۚ وَمَا لَهُم بِذَٰلِكَ مِنۡ عِلۡمٍۖ إِنۡ هُمۡ إِلَّا يَظُنُّونَ ٢٤

“Dan mereka berkata : “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa.” (QS. Al­Jatsiyah ; 24)

Dinamakan dengan hari akhir karena sudah tidak ada hari lagi sesudahnya dan ini adalah tahapan akhir yang dialami manusia. Manusia itu mengalami lima tahapan kehidupan : Tahapan ketidakadaan, tahapan di alam rahim, alam dunia, alam barzakh dan kemudian alam akhirat.

  1. Tahapan ketidakadaan adalah sebagaimana ditunjukan oleh firman Allah azza wajalla:

هَلۡ أَتَىٰ عَلَى ٱلۡإِنسَٰنِ حِينٞ مِّنَ ٱلدَّهۡرِ لَمۡ يَكُن شَيۡ‍ٔٗا مَّذۡكُورًا ١

“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?” (QS. Al­Insan ; 1)

Kematian

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِن كُنتُمۡ فِي رَيۡبٖ مِّنَ ٱلۡبَعۡثِ فَإِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن تُرَابٖ ثُمَّ مِن نُّطۡفَةٖ ثُمَّ مِنۡ عَلَقَةٖ ثُمَّ مِن مُّضۡغَةٖ مُّخَلَّقَةٖ وَغَيۡرِ مُخَلَّقَةٖ لِّنُبَيِّنَ لَكُمۡۚ وَنُقِرُّ فِي ٱلۡأَرۡحَامِ مَا نَشَآءُ إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمّٗى ثُمَّ نُخۡرِجُكُمۡ طِفۡلٗا ثُمَّ لِتَبۡلُغُوٓاْ أَشُدَّكُمۡۖ وَمِنكُم مَّن يُتَوَفَّىٰ وَمِنكُم مَّن يُرَدُّ إِلَىٰٓ أَرۡذَلِ ٱلۡعُمُرِ لِكَيۡلَا يَعۡلَمَ مِنۢ بَعۡدِ عِلۡمٖ شَيۡ‍ٔٗاۚ وَتَرَى ٱلۡأَرۡضَ هَامِدَةٗ فَإِذَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡهَا ٱلۡمَآءَ ٱهۡتَزَّتۡ وَرَبَتۡ وَأَنۢبَتَتۡ مِن كُلِّ زَوۡجِۢ بَهِيجٖ ٥

“Wahai manusia jika kamu ragu kepada hari kebangkitan maka sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, kemudian  dari segumpal darah kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna. Agar Kami jelaskan kepadamu dan kami tetapkan dalam rahim apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi kemudian kamu menjadi dewasa. Dan di antaramu ada yang diwafatkan dan ada yang dipanjangkan umurnya hingga pikun supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang telah dia ketahui dahulu. Dan kamu lihat bumi itu kering dan apabila Kami turunkan air dari atasnya hiduplah bumi itu dan suburlah menumbuhkan berbagai macam tumbuhan yang indah.” (QS. Al­Hajj ; 5)

  1. Adapun tahapan alam rahim, sebagaimana firman Allah azza wajalla:

“Dia telah menciptakan kalian dalam perut­perut ibu­ibu kalian kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan”. (QS. Az­Zumar ; 6)

  1. Adapun tahapan kehidupan dunia, sebagaimana firman Allah azza wajalla:

وَٱللَّهُ أَخۡرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ شَيۡ‍ٔٗا وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ وَٱلۡأَفۡ‍ِٔدَةَ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ ٧٨

“Dan Allah telah mengeluarkan kalian dari perut­perut ibu­ ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui segala sesuatu dan Dia menjadikan bagimu pendengaran, penglihatan dan hati agar kalian bersyukur.” (QS. An­Nahl ; 78)

Dan pada tahapan inilah yang menentukan bahagia dan celakanya, dan merupakan negeri ujian dan cobaan. Sebagaimana firman Allah azza wajalla:

ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗاۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡغَفُورُ ٢

“Dialah yang telah menciptakan kematian dan kehidupan agar menguji kalian siapa di antara kalian yang paling bagus amalannya.” (QS. Al­Mulk ; 2)

  1. Adapun tahapan alam barzakh, Allah azza wajalla berfirman tentangnya :

وَمِن وَرَآئِهِم بَرۡزَخٌ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ ١٠٠

“Dan dari belakang mereka ada barzakh (pembatas) sampai hari kebangkitan.” (QS. Al­Mu’minun ; 100)

  1. Adapun tahapan kehidupan akhirat adalah tahapan tujuan dan ujung dari semuanya. Allah azza wajalla berfirman setelah menyebutkan tahapan­tahapan kehidupan manusia :

 ثُمَّ إِنَّكُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ تُبۡعَثُونَ ١٦

“Dan sesungguhnya setelah itu kalian akan menjadi mayit kemudian nanti di hari kiamat kalian akan dibangkitkan.” (QS. Al­Mukminun ; 16)

Penulis berkata :

Beriman dengan segala yang dikabarkan Nabi dari  perkara yang akan terjadi setelah kematian”.

Semua ini masuk dalam keimanan dengan hari akhir. Yang demikian itu, karena manusia apabila telah mati dia akan memasuki hari akhir tersebut, sehingga dikatakan : Orang yang telah mati itu telah terjadi kiamatnya. Dan segala sesuatu yang terjadi setelah kematian adalah termasuk bagian dari hari akhir. Kalau demikian betapa dekatnya hari akhir dengan kita, tidaklah ada pembatas antara kita dengan hari akhir kecuali kematian. Kemudian dia masuk ke dalam hari akhir yang mana tidak ada di sana kecuali balasan­balasan amalan. Oleh karena itu wajib bagi kita untuk memperhatikan perkara ini.

Pikirkanlah wahai manusia! Engkau dapati dirimu dalam bahaya, karena maut itu tidak seorangpun di antara kita yang mengetahui kedatangannya. Terkadang sese­ orang keluar rumahnya akan tetapi dia tidak kembali lagi ke rumahnya. Terkadang ada manusia yang duduk di atas kursi kantornya tetapi dia tidak bisa bangkit lagi darinya.

Terkadang seseorang tidur di atas kasurnya akan tetapi tidurnya membawanya ke tempat pemandian jenazah. Dan ini adalah perkara­perkara yang mewajibkan kita untuk memanfaatkan kesempatan umur kita agar bertaubat kepada Allah dan manusia itu terus menerus merasakan dirinya bertaubat kepada Allah dan kembali kepadaNya. Sehingga, jika datang ajalnya, dia dalam keadaan baik amalannya seperti yang dia cita­citakan.

Demikian Semoga Bermamfaat…

@Wallahu ‘alam bishowab…

Oleh : Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullahu

(Buku Ada apa setelah kematian “Menelusuri kejadian-kejadian di hari kiamat”. Penerbit: Pustaka Al Isnaad. Tanggerang 2008)

Artikel : http://belajarislam.or.id (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Related Post

LEAVE A REPLY